Sabtu, 21 Maret 2020

Tradisi Meminta Berkat



JIKA ADA YG MAU KE KELENTENG

PROSEDUR PWAPWE:

1. Usahakan untuk berpantang dahulu, bisa  vegetarian atau chishu 吃素 minimal satu hari sebelum bertanya.
2. Bersihkan diri sebelum bertanya. Bisa dengan membasuh muka, tangan. Jika memungkinkan mandi dan keramas serta buang kotoran kira-kira 1 jam sebelum bertanya.
3. Pakai pakaian yang sopan dan pantas. Karena anda hendak menghadap dewata yang anda hormati.
4. Sembahyang terlebih dahulu. Jika kondisi ekonomi mampu ( kelas menengah ke atas ) gunakan dupa yang baik, bukan dupa bubuk gergaji yang disemprot dengan parfum.
5. Tenangkan diri selama beberapa menit, heningkan pikiran sebelum bertanya. Lebih baik lagi jika memanjatkan gatha atau pujian untuk dewatanya 寶誥. Tujuannya adalah “penyatuan diri”.
6. Pweenya diputar di pendupaan 過爐. Tujuannya adalah “purifikasi” alat pwapwee dan asap dupa dipercaya sebagai alat untuk menyampaikan keinginan.
7. Sebut nama, tanggal lahir, alamat dengan lengkap kemudian pertanyaan harus jelas.
8. Gunakan pwee yang baik dan tidak cacat.
Beberapa hal penting yang harus diingat atau hindari :
a. Mulut yang kotor saat mau bertanya. Misalnya jangan merokok. Jika merokok maka harus kumur terlebih dahulu.
b. Jangan memaksa jawaban yang sesuai dengan keinginan kita.
c. Saat memasuki area altar, jangan bercakap-cakap yang tidak perlu pada orang lain. Fokus pada tujuan.
d. Jangan gunakan pwee dari plastik dan pwee yang cacat.
e. Jangan meminta orang lain yang melemparkan kecuali tidak percaya atau berhalangan.
f. Tidak boleh lebih dari tiga kali  pwapwee untuk satu pertanyaan atau permasalahan.
g. Jangan bertanya hal-hal yang tidak perlu atau penting.
Untuk pwapwee tidak hanya digunakan untuk mendapat jawaban atas permasalahan juga bisa digunakan untuk “komunikasi” dengan alam lain. Misalnya saat melakukan ritual untuk leluhur bisa digunakan. Tapi jangan gunakan pwee untuk komunikasi dengan alam leluhur tapi gunakan koin uang. Hal ini terkait dengan konsep energy manusia atau 人氣 yang mengandung unsur yang.

Tradisi Chengbeng


Tradisi pemakaman dan perkabungan Tionghoa sudah berjalan 3.000 tahun sebelum masehi. Khonghucu (551-570) mendukungnya namun guru Mozi (570-391) menuduhnya kebodohan dan pemboroskan.
Sayangnya tradisi Tiongkok kuno itu sudah tidak diajarkan dengan lengkap dan benar lagi sehingga orang-orang Tionghoa generasi ini pun sudah tidak mengerti maknanya. Kalau pun masih mempraktekkannya kebanyakan bahkan sudah menjadi tahyul dan ladang para dukun feng shui mencari duit dengan membodohi masyarakat.
Bakan sudah banyak umat agama lain yang mengejek tradisi pemakaman dan kerkabungan Tionghoa penuh kebodohan untuk ngalap berkah alias mencari kekayaan dengan cara tahyul.
Kerabatku sekalian, kalau sanja anda mau bersabar untuk mempelajarinya, maka anda akan tahu bahwa ajaran tradisi pemakaman dan kerkabungan Tiongkok kuno itu punya makna yang agung dan bikin geleng-geleng kepala.
Agama Tiongkok kuno adalah agama akal budi. Diajarkan oleh raja-raja kuno untuk mengajarkan Li(kesusilaan) guna mengembangkan De(kebajikan). Bukan untuk menyembah makhluk-makhluk entah berentah guna mencari berkat.
Walaupun dianggap aneh dan tahyul serta bodoh juga menyembah arwah namun sesungguhnya tradisi pemakaman dan kerkabungan Tionghoa sangat logis dan ilmiah serta bikin geleng-geleng kepala melihat keagungannya.

""Tianzi(raja) dimasukan ke dalam peti mati setelah tujuh hari dan dimakamkan setelah tujuh bulan. Zhuhou(rajamuda) dimasukan ke dalam peti mati setelah lima hari dan dimakamkan setelah lima bulan. Dafu(pembesar) dan shi(pejabat) serta shuren(rakyat jelata) dimasukan ke dalam peti mati setelah tiga hari dan dimakamkan setelah tiga bulan. Perkabungan tiga tahun berlaku dari Tianzi(raja) hingga rakyat jelata di seluruh kampung. Liji III:III:1 – Wangzhi""

Ketika almarhum meninggal, rasa hormat dan sayang kepada almarhum sama sekali tidak berkurang apalagi hilang. Itu sebabnya, secara naluri, keinginan untuk menyatakan rasa hormat dan sayang kepada almarhum tetap ada bahkan bergelora mencapai puncaknya.
Bagaimana cara melampiaskan perasaan demikian tanpa melanggar kesusilaan (Li) dan tidak menentang kebajikan (De) sang agung? Para raja agung Tiongkok kuno pun kemudian mengembangkan tradisi sembahyang orang mati yang meliputi:

1. Pemakaman
2. Perkabungan
3. Sembahyang orang mati

Kenapa tradisi pemakaman raja dan raja muda serta pejabat tinggi berbeda-beda? Karena kedudukan dan kekayaan masing-masing berbeda. Yang kaya tidak boleh membabi buta namun yang miskin harus tahu diri.
Ketika almarhum meninggal anak cucunya sulit untuk berpisah darinya. Itu sebabnya raja Tiongkok kuno pun menetapkan pembatasan bahwa mayat raja boleh ditunda penguburannya maksimal 7 hari di luar peti mati.
Walaupun menggunakan teknologi pengawetan jaman itu namun setelah 7 hari jenasah mulai berbau busuk dan mengerikan wujudnya. Keinginan untuk menjamah almarhum pun mulai hilang. Itu sebabnya jenasah segera dimasukan ke dalam peti.

""Cengzi berkata, “Seorang teman dikuburkan. Setelah ditumbuhi rumput tidak ditangisi lagi.” Liji IIA:I:8 – Tangong shang""

Setelah dimasukan ke dalam peti mati, jenasah raja boleh ditunda penguburannya maksimal 7 bulan. Setelah dikubur, kuburan raja boleh dikunjungi dan ditangisi. Namun setelah ditumbuhi rumput maka kuburan raja tidak boleh dikunjungi lagi.
Perkabungan tiga tahun berlaku dari Tianzi raja hingga rakyat jelata di seluruh kampung. Hanya anak sulung atau pewaris tahta yang boleh berkabung tiga tahun. Kenapa hanya boleh berkabung tiga tahun?

""Perkabungan tiga tahun berakhir setelah dijalani selama dua puluh lima bulan. Walaupun rasa sedih dan duka belum hilang dan rasa kangen pun belum terlupakan. Sebaiknya pakaian kabung ditanggalkan. Mustahil mengantar orang mati tanpa akhir karena setiap pesta manusia pasti ada akhirnya, bukan? Liji XXXV:3 – Sannianwen""

""Kongzi berkata, “Seorang anak, sejak lahir hingga berumur tiga tahun baru dipisahkan dari ibunya. Seorang dewasa berkabung selama tiga tahun. Di bawah kolong langit itulah dasang perkabungan besar. Liji XXXV:15 – Sannianwen""

Menurut tradisi kuno orang Tiongkok kuno tidak membangun makam apalagi menghias pusara. Inilah yang diajarkan oleh Khongzi dan terjadi pada saat itu.

""Kongzi baru selesai melakukan hezang menguburkan kembali tulang-belulang orang tuanya di Fang. Dia lalu berkata, “Aku tahu kuburan orang kuno tidak ada fen makamnya. Hari ini, Qiu(nama kecil Kongzi) adalah manusia dong xi nan bei ren  manusia timur barat selatan utara, pengembara. Selama ini aku tidak mendukungnya karena tidak mengerti ajarannya.” Setelah liang lahat ditutup, di atasnya pun dibangun pusara empat kaki tingginya. Kongzi lalu pulang duluan dan membiarkan murid-muridnya membereskan semuanya. Turunlah hujan lebat dan ketika murid-muridnya tiba, Kongzi bertanya, “Kenapa lama sekali baru pulang?” Mereka menjawab, “Kuburan di Fang longsor.” Kongzi tidak menanggapi walaupun tiga kali mereka memberinya penjelasan. Dengan berderai air mata Kongzi menangis sedih sambil berkata, “Sekarang aku mengerti, kenapa orang kuno tidak membangun dan menghias makam?” Liji IIA:I:6 – Tangong shang""

Karena tidak membangun makam lalu bagaimana cara orang Tiongkok kuno menyembahyangi leluhurnya?

""Seorang Junzi(susilawan) waktu hidup melayani dengan penuh hormat, ketika meninggal menyembahyanginya, yang dipikirkannya sepanjang hidupnya adalah agar tidak mencemarkan namanya. Sesungguhnya seorang susilawan berkabung seumur hidupnya bagi orang tuanya. Pada saat memperingati hari ulang tahun kematian mereka, ia tidak bekerja, bukan karena hari tersebut tidak membawa berkat, tetapi karena pada hari tersebut pikirannya dipenuhi kenangan akan orang tuanya dan tidak berani memaksakan diri untuk kepentingan pribadinya. Liji XXI:I:5- Jiyi""

Orang Tiongkok kuno menyembahyangi nenek moyangnya dengan membuat papan arwah yaitu papan yang bertuliskan namanya.

""Fushu(berkabung) itu ada enam. Pertama, qinqin(ikatan keluargaan). Kedua, zunzun( rasa hormat). Ketiga ming(nama besar). Keempat churu(keluar masuk). Kelima zhangyou(anak cucu). Keenam congfu( turut berdukacita). Liji XIV:9 – Dazhuan""

Orang Tiongkok kuno tidak berkabung asal berkabung seenak jidatnya saja. Mereka berkabung dengan alasan yang tepat dan wajar. Berkabung demi pencitraan akan dihina. Model dan warna baju menunjukkan jauh dekatnya ikatan kekeluargaan. Ikut dan tidak ikut sembahyang menunjukkan silsilah. Cara menghormat kepada almarhum menunjukkan reputasinya. Menantu dan besan ada jenis sajian sembahyangnya sendiri. Sanak keluarga jauh nampak dari namanya posisinya dalam meja sembahyang. Orang-orang sekampung dan yang turut berduka cita punya aturannya sendiri, misalnya, tidak boleh memberi sajian sembahyang namun boleh memberi kain yang berisi ucapan berduka cita dan pujian dengan tulisan Tionghoa.

""Tiandi Yang Mahatinggi dan Yang Maharendah berpadu maka sulung dari berlaksa ada pun jadi. Laki-laki dan perempuan bersetubuh sesuai Li(kesusilaan) maka berlaksa generasi pun dimulai. Liji IX:III:7 – Jiao tesheng""

Itulah alasan kenapa orang Tiongkok kuno menyembah Yang Mahatinggi dan Yang Maharendah sebagai nenek moyang. Maksimal setelah generasi ke lima raja tidak boleh menyembahyangi leluhurnya lagi karena tidak ada ikatan kekeluargaan lagi dengan mereka dan mereka tidak saling mengenalnya lagi.

Itu sebabnya orang-orang Tionghoa selalu diajari agar jangan sembarangan dan sok tahu menyembahyangi leluhur orang lain.Itulah yang dimaksudkan oleh Khongzi dengan

""Kongzi berkata, “Jangan menyembah gui(arwah orang mati), itu namanya menjilat. Mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya disebut pengecut. Lunyu 2:24 – Weizheng"",,,